Pages

Jumat, 22 Mei 2015

Serambi Asma

Pernahkah kau dengar?
Derit pintu tersenyum meyapu kesedihan. 
Terlukiskan  kenangan kebersamaan dalam pekatnya ilalang yang mengaum di belakang beranda Asma. 
Terjulur tawa mengaburkan luka yang terpatri di palung yang menghujam.
MElambaikan duri-duri menusuk curam kesedihan.

Kita mengukir senyuman dengan nyanyian sendu yang meluruh bersama hujan sore tadi.
Membiaskan dentang kabut sepi dalam riangnya rantai persudaraan.
Di serambi Asma, terulas simpul bibir yang terluka. Menari ceria bersama awan yang memudar. Memeluk senang dalam kehangatan yang tercipta. Dalam senyap yang mengahampiri suka yang menggemakan cinta.


Kita






Aku bersandar saja pada angin. Pun melukis pada daun jendela yang mulai rapuh. Dan bercerita pada hujan. Jika kau lupa akan kita yang bergandengan tangan silam. Bersenda dalam naungan langit yang membiru. Aku rindu kalian. Walau kita berada dalam lingkar yang berbeda sekarang. Aku harap kita tetap hebat. Dalam untaian do'a yang berseloroh dalam sujud.

Kau dengar ritme sajak itu? . Ah iya. Aku lupa. Kalian teramakan arus yang menghujam sejak itu. Berpusah. Tertelan gejolak jiwa yang menggebu. Berpikir "Akulah cahaya". Ah.. bangunlah kawan. Kita sama bergambar abu dimatanya. Akupun demikian. Hanya segumpal debu yang pasi.

Aku rasa. Kuingin gantungkan ceritaku pada daun-daun yang mengering sekarang. Aku tidak ingin jatuh dalam labirin tak berujung. Meski begitu.. Aku menyayangimu kawan

. Walau terkadang ada api di arena permainan kita. Namun ada embun yang selalu meneduhkan kita.


Pemalang, 12 April 2014


Sabtu, 25 April 2015

Buku Januari



Bintang-bintang tertawa dalam senyapnya malam. Ilalang mengulum senyum dibalik pekatnya sepi. Perih. Mereka melirik merah dalam palung rindu yang menguap tersapu angin. Mengapa engkau belum jua datang?
Biar. Aku tak peduli lumut berbisik. Pun jua batu mendengkur dalam balutan embun. Namun, bisakah mentari tak terhalang awan?
Cukup. Perih menyengatku. Berhentilah kan kubiarkan lembah-lembah berbunga layu dalam senyapku. Lanskap riangku terbang bersama menyulam rindu.
Tunggulah senja menjemputku. Tetaplah disini. Walau dalam sekerjap mata berkedip. Sedetik nyanyian perkutut. Aku mohon jingga. Disinilah kita beradu. Dalam buku Januari, bersampul pualam berbalut luka.



Pemalang, 14 Januari 2014

Di Balik Jendela


Februari yang basah. Mendung mengulum rindu pada ritme gerimis. Mengubah rintik yang berlarian yang berlarian menyibakan tanah beromakan hujan. Pun angin yang mulai menepuk pipi yang merona oleh sengatan dingin. Lalu aku melihatmu pergi di bawah naungan langit yang menghitam dengan setangkai bunga yang mulai pasi meninggalkan taman yang mengembang.
Februari yang basah. Aku harus puas dengan kaca yang mengembun. Tak mapu menjamah hujan yang mulai memenuhi cakrawala. Aku tahu, hujan tak mengenal nama pemilik jendela.






Pemalang, 21 Februari 2015