Pages

Cerpen

Sakira

Aku melihatnya menangis pagi tadi. Sakira, gadis cilik yang memiliki luka yang dalam pada hati dan juga kakinya berlari menembus angin, tak mempedulikan kaki kecilnya yang tak lagi bisa menahan beban badannya. Dia terkulai lemah pada tanah. Kulihat netranya basah oleh airmata dan hujan pagi. Ah, Sakira ada apa denganmu sayang?.
Kubersihkan luka yang memerah oleh tanah berbatu. Wajahnya mengabur oleh cuilan tanah dan airmata. Isakannya masih terdengar olehku. Sakira hanya terdiam tak berani menatapku. Akupun diam. Sesekali tatapan matanya menegok pada punggungku. Ah bukan sepertinya belakang punggungku.
“Ada apa?”.
Sakira masih dalam diamnya.
“Aku tak suka kupu-kupu”.
Aku terdiam dengan jawabannya.
“Kupu-kupu memberikan kepahitan pada bunga yang akan berkembang”.
 Barangkali anak ini mulai sakit. Badannya demam. Aku tak bisa menangkap apa yang dikatakan oleh gadis ini.
            “Aku takut kupu-kupu”.
Aku memeluknya erat.
***
Gadis itu mulai memasang wajah buram. Sakira, gadis kecil berusia tak kurang dari 10 tahun dengan rambut cokelat panjang yang berantakan duduk dihadapanku. Jemarinya saling bertaut menahan dingin oleh hujan pagi tadi. Nafasnya masih sedikit tersengal dengan netra sayu menahan luka. Aku tak bertanya. Kubiarkan ia mengatur ketenangannya sendiri. Sesekali kakinya mengayun-ayun kedepan dan kebelakang menahan gugup dan rasa takut. Segelas air yang kuberikan dibiarkannya begitu saja dengan kue kering yang mulai dikerubuti oleh lalat.
“Mandilah”. Aku mengatakannya sambil menyerahkan handuk baru bermotif kupu-kupu.
Sakira hanya melihatku sekilas dan tak menampik maupun menerima handuk yang kuberikan. Tanganku dibiarkannya menggantung.
“Aku tak suka kupu-kupu”.
Aku mengernyitkan dahi tak mengerti. Mungkin ia tak suka apapun yang berbau kupu-kupu. Aku melangkah masuk dan mengambilkan handuk tak bermotif. Kuletakan di sebelah Sakira.
“Negeri ini tak bisa melindungi anak kecil sepertiku”.
Aku benar-benar tak memahami Sakira. Di usianya ia menjadi gadis lebih dewasa dibanding dengan anak lainnya.
“Aku melarikan diri”. Kulihat ia mulai menyesap segelas air yang kuberikan.
“Ibuku telah pergi dan meninggalkanku dengan seekor kupu-kupu. Aku dipaksa untuk menjadi kupu-kupu sepertinya”. Sakira menunjukan lengan hitamnya dengan jemari yang mulai melukiskan kupu-kupu di lengan keringnya.
“Tato?”. Sakira mengangguk.
“Dan lebih dari itu”. Kemudian menunduk. Isakannya mulai terdengar.
***
Terlihat deretan-deretan awan abu mulai berbaris memenuhi seluruh bentangan biru langit. Sekerjap berlalu, dentingan tititk-titik air perlahan turun menghantam genting. Berisik namun menyenangkan, membentuk ritme alunan yang indah. Aroma tanah menguap memenuhi bumi, angin meliuk-liuk menepuk wajah mungilnya. Sakira  terlihat gusar. Ia menggerakan tubuhnya ke sebelah kiri dan ke kanan. Bunga asoka dibelakang halte bercat kuning kusam itu berjatuhan di lantai batako yang dipijaknya.Top of Form
“kenapa?”
“Tak apa.”.
Akupun tersenyum mendengarnya.
Udara dingin mulai menyelimuti dengan taburan hujan yang tajam dengan pohon mahoni di sepanjang jalan yang berbaris rapat menuju matahari terbenam. kicau burung dan dedaunan gugur yang mulai menutupi jalan. Seorang pria bertubuh tinggi duduk diantara pohon mahoni yang menjulang. Dengan mata sayu yang tersiram guyuran hujan, ia termenung. Kedua kakinya ia buka lebar dengan kepalan tangan yang ia letakan diujung bibirnya yang dingin. Aku melihat laki-laki itu berdiri dan mulai berjalan kearahku. Aku melihat Sakira mengigil ketakutan. Kupegang erat tangannya dan mengajaknya berlari di bawah guyuran hujan yang kian dingin dan tajam.
***
Aku telah berada di tengah jalan tak berujung. Aku lelah untuk berlari. Kakiku membeku oleh hujan. Nafasku tersengal tak beraturan. Aku terjerembab di tanah basah. Aku teringat Sakira.  Genggamannya telah terlepas dariku. Aku memutar balik arah mencari Sakira. Dimana ia? Aku berjalan dengan kaki yang terluka seperti Sakira. Luka Sakira merembas menjadi lukaku. Aku merasakan sakit Sakira. Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku berlari mencari Sakira. Bibirku mulai membeku. Gigiku gemeretak. Aku terkulai. Samar kulihat Sakira menangis di tepi didinding rumah. Ia ketakutan dengan seorang pria tadi yang berdiri di hadapannya. AKu bangkit dan mendekati Sakira dan memeluknya. Pria dihadapanku mendekatiku. Sekuat tenaga kulawan pria tadi. Aku menghantamnya dengan batu yang kuraih disampingku. Pria itu berdarah.
***
Kepalaku masih terasa berdenyut. Aku berada dalam ruangan yang serba berwarna putih. Rumah sakit. Aku benci berada disini. Dengan jarum suntik yang selalu benancap dalam tubuhku yang membiru oleh bekas sengatannya.
“Dia kabur 3 hari lalu, dan Bapaknya yang membawanya kesini”.
Aku mendengar bisikan seorang wanita berpakaian putih sedang bercakap dengan wanita di sebelahnya tak jauh dariku. Disana di jendela kaca yang dipagar trail besi.
Gadis itu berhalusinasi sepertinya, ia memiliki trauma masa kecil yang menyedihkan”.
Kerlingan air mataku mengalir begitu saja mendengarnya.
***


Pemalang, 18 Januari 2015

0 komentar:

Posting Komentar