Pages

Makalah

MAKALAH
“BELAJAR DENGAN RAJIN”
Disusun guna memenuhi tugas :
Mata Kuliah: Hadist Tarbawi
Dosen pengampu: Ahmad Rifa’I M.Ag

Description: C:\Users\Axioo\Documents\logo stain.jpeg
Disusun oleh:
Khoerotun Nisa (202 111 2088)
Kelas F
JURUSAN TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
( STAIN ) PEKALONGAN
2013
BAB I
PENDAHULUAN



Dalam sumber hukum islam hadits atau sunnah ini menduduki posisi yang sangat signifikan , baik secara struktural maupun secara fungsional. Secara struktural hadits atau sunnah ini menduduki posisi kedua sebagai sumber hukum setelah al-qur’an, sedangkan secara fungsional hadits atau sunnah ini merupakan bayan ( penjelasan) terhadap ayat-ayat al-qur’an yang masih bersifat global dan mutlak.
Sebagai sumber hukum yang kedua, hadits atau sunnah ini memiliki peran sebagi penjelas dan pemerinci hukum- hukum yang mengatur kegiatan muamalah seluruh umat muslim, seperti halnya hadits-hadits yang mengatur tentang pendidikan. Dimana pendidikan mempunyai arti dan peranan penting bagi manusia guna menggairahkan dalam melakukan pengabdian kepada Allah.  Pendidikan memiliki tujuan untuk menumbuhkan pola kepribadian manusia yang bulat melalui latihan kejiwaan kecerdasan otak, penalaran, perasaan dan indera. Pendidikan mendorong aspek tersebut ke arah keutamaan serta pencapaian kesempurnaan hidup. Namun untuk mewujudkan hal tersebut manuasia sering tergoda oleh sifat-sifat buruk, terutama rasa malas. Erat kaitannya dengan hal itu dalam makalah ini akan dibahas tentang hadist tentang peserta didik khususnya “Belajar Dengan Rajin”.







BAB II
PEMBAHASAN

A.   Belajar Dengan Rajin
1.      Materi Hadist

قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ إِنِّي لَأُجَزِّئُ اللَّيْلَ ثَلَاثَةَ أَجْزَاءٍ فَثُلُثٌ أَنَامُ وَثُلُثٌ أَقُومُ وَثُلُثٌ أَتَذَكَّرُ أَحَادِيثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
2.      Terjemah
Abu Hurairah pernah berkata :” Sungguh aku membagi malamku menjadi tiga bagian yaitu sepertiga waktu malam untuk tidur, sepertiga untuk beribadah dan sepertiga lagi untuk mempelajari hadist Rasulullah Sallahu’alaihi Wassalam”.[1]
3.      Keterangan Hadist
Abu Hurairah dikenal dengan penghafal hadist terbesar sepanjang masa. Beliau memiliki kelebihan yang luar biasa dalam mengingat dan menghafal dari apa yang didengarnya. Beliau sangat dekat dengan Rasu, beliau pun sering mendengar dan hadist-hadist Rasulullah dan menghafalnya.  Abu Hurairah berkata bahwa malam hari beliau bagi menjadi  tiga bagian malam yaitu sepertiga untuk tidur , sepertiga untuk ibadah malam, sepertiga untuk belajar hadist-hadist yang pernah beliau dengar dari Rasulullah. [2]Dan maksud dari hadist ini yaitu, sepertiga malam yang pertama yakni kurang lebih jam 18.00-22.00 untuk belajar, sepertiga malam yang kedua yakni antara jam 22.00-02.00, digunakan untuk mengistirahatkan badan, dan sepertiga terakhir antara jam 02.00-menjelang subuh digunakan untuk beribadah.[3]

4.      Nilai Tarbawi
Umat islam menaruh perhatian secara serius terhadap kegiatan belajar, karena belajar diperintahkan bahkan diwajibkan dalam islam. Imam Al Ghazali juga memandang bahwa belajar adalah sangat penting serta menilai sebagai kegiatan yang terpuji. Sebagai penuntut ilmu atau dengan kata lain sebagai peserta didik  harus memiliki prinsip wajib belajar yaitu prinsip yang menekankan agar setiap orang dalam islam merasa bahwa meningkatkan kemampuan diri dalam bidang pengembangan wawasan pengetahuan, keterampilan, intelektual, spiritual, dan sosial merupakan kewajiban yang harus dilakukan.[4]Menghilangkan sifat malas adalah sebuah kewajiban dan menanamkan sifat tekun sebagai penggantinya.
Agar anak didik memeperoleh ilmu yang bermanfaat diperlukan adab atau tata krama untuk mengikuti pendidikan islam. Seperti yang diungkapkan Imam Al-Ghazali yaitu :
a.       Hendaklah seorang pelajar mengemukakan cita-citayang suci murni dipenuhi oleh semangat yang suci.
b.      Jangan menyombongkan diri, karena ilmu pengetahuan yang dipelajari.
c.       Jangan mengambil tambahan pelajaran sebelum memahami pelajaran yang lama.
d.      Hendaklah tujuan pendidkan itu dihadapkan untuk mendekatkan diri kepada Allah.[5]
Mohammad Athiyah al-Abrasy menyebutkan beberapa kewajiban yang dilakukan seorang pendidik, yaitu:
a.       Menjalin hubungan yang harmonis dengan guru.
b.      Memuliakan guru.
c.       Tekun dan bersungguh-sungguh.
d.      Memelihara rasa persaudaraan dan persahabatan sesama penuntut ilmu.
e.       Belajar sepanjang hayat.
f.       Hendaklah siswa tekun belajar, mengulangi pelajarannya di waktu senja dan menjelang subuh,waktu anatara isya dan malam sahur itu adalah waktu yang penuh berkah.

Burhan al-Din al-Zarnuji mengemukakan pendapat Ali bin Abi Thalib  tentang enam hal penting yang perlu dilakukan oleh peserta didik melalui syairnya  sebagai berikut :
“Ingatlah! Engkau tidak akan memperoleh ilmu, kecuali dengan enam syarat, aku akan menjelaskan enam syarat itu padamu yaitu kecerdasan, motivasi yang kuat, kesabaran, modal, petunjuk guru, dan masa yang panjang”.[6]

Menurut Syekh Az Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’allim menerangkan beberapa sifat dan tugas para penuntut ilmu :
a.       Tawadhu sifat sederhana, tidak sombong tidak pula rendah diri
b.      Tabah, tahan dalam menghadapi kesulitan pelajaran dari guru.
c.       Cinta ilmu dan hormat kepada Guru dan keluarganya dengan demikian ilmu iyu akan bermanfaat.
d.      Sayang kepada kitab, menyimpan dengan baik.
e.       Teguh pendirian dan ulet dalam menuntut ilmu.
f.       Wara’ ialah sifat menahan diri dari perbuatan yang terlarang.
g.      Punya cita-cita yang tinggi dalam mengejar ilmu pengetahuan.
h.      Bersungguh-sungguh belajar dengan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya (bangun tengah malam).[7]











BAB III
PENUTUP
Belajar mempunyai peranan penting dalam kehidupan. Dengan belajar orang jadi pandai, ia akan mengetahui terhadap segala sesuatu yang dipelajarinya. Tanpa belajar orang tidak akan menegtahui sesuatu apapun. Dari uraian makalah ini dapat disimpilkan bahwa belajar adalah perbuatan yang terpuji. Disamping belajardapat menambah ilmu penegtahuan baik teori maupun praktek, belajar juga dapat dinilai sebagai ibadah kepada Allah. Orang yang belajar dengan sungguh-sungguh disertai niat ikhlas ia akan memperoleh pahala . Belajar juga dinilai sebagai perbuatan yang mendatangkan ampunan dari Allah. Demikian pentingnya belajar ini sehingga dihargai sebagai Jihad Fi sabilillah yang pahalanya disamakan dengan orang yang berperang dijalan Allah.









DAFTAR PUSTAKA
Muliawan,Ungguh, Pendidikan Islam Integratif Upaya Mengintegratifkan Kembali Dikotonomi Ilmu  Islam Pendidikan Islam, Yogyakarta. Pustaka Pelajar,2005.

Nata, Abudin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta. Kencana, 2010. Nengtari,

http//:wordpress.com/2012/08/08/manajemen-waktu-1/3 malam. (diakses tanggal 18 Oktober 2013)

Sunnan Addarimi (E-Book)
Uhbiyati,Nur,  Ilmu Pendidikan Islam, Bandung. CV. Pustaka Setia, 1998.






      [1] Sunan Addarimi (E-Book)
      [2].Ungguh Muliawan, Pendidikan Islam Integratif Upaya Mengintegratifkan Kembali Dikotonomi Ilmu Islam Pendidikan Islam, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2005).
       [3] Nengtari, http//:wordpress.com/2012/08/08/manajemen-waktu-1/3 malam.
       [4] Abudin Nata, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta :Kencana,2010).hlm.103.
       [5] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung:Pustaka Setia,1998).hlm.107-108.
       [6] Abudin Nata op.cit., hlm.183.
[7]  Nur Uhbiyati, op.cit. ,hlm.110.

0 komentar:

Posting Komentar