Februari yang basah.
Mendung mengulum rindu pada ritme gerimis. Mengubah rintik yang berlarian yang
berlarian menyibakan tanah beromakan hujan. Pun angin yang mulai menepuk pipi yang
merona oleh sengatan dingin. Lalu aku melihatmu pergi di bawah naungan langit
yang menghitam dengan setangkai bunga yang mulai pasi meninggalkan taman yang
mengembang.
Februari yang basah.
Aku harus puas dengan kaca yang mengembun. Tak mapu menjamah hujan yang mulai
memenuhi cakrawala. Aku tahu, hujan tak mengenal nama pemilik jendela.
Pemalang, 21 Februari 2015

0 komentar:
Posting Komentar