Pages

Sabtu, 25 April 2015

Buku Januari



Bintang-bintang tertawa dalam senyapnya malam. Ilalang mengulum senyum dibalik pekatnya sepi. Perih. Mereka melirik merah dalam palung rindu yang menguap tersapu angin. Mengapa engkau belum jua datang?
Biar. Aku tak peduli lumut berbisik. Pun jua batu mendengkur dalam balutan embun. Namun, bisakah mentari tak terhalang awan?
Cukup. Perih menyengatku. Berhentilah kan kubiarkan lembah-lembah berbunga layu dalam senyapku. Lanskap riangku terbang bersama menyulam rindu.
Tunggulah senja menjemputku. Tetaplah disini. Walau dalam sekerjap mata berkedip. Sedetik nyanyian perkutut. Aku mohon jingga. Disinilah kita beradu. Dalam buku Januari, bersampul pualam berbalut luka.



Pemalang, 14 Januari 2014

Di Balik Jendela


Februari yang basah. Mendung mengulum rindu pada ritme gerimis. Mengubah rintik yang berlarian yang berlarian menyibakan tanah beromakan hujan. Pun angin yang mulai menepuk pipi yang merona oleh sengatan dingin. Lalu aku melihatmu pergi di bawah naungan langit yang menghitam dengan setangkai bunga yang mulai pasi meninggalkan taman yang mengembang.
Februari yang basah. Aku harus puas dengan kaca yang mengembun. Tak mapu menjamah hujan yang mulai memenuhi cakrawala. Aku tahu, hujan tak mengenal nama pemilik jendela.






Pemalang, 21 Februari 2015